Paradise of Earth

Terlihat dari jauh kabut pucat menyelimuti dataran basah itu dan matahari pagi memancarkan cahayanya yang berkilau, tanpa disadari aku melangkah bagai mimpi ke tempat itu, lalu duduk dibawah pohon yang diam. Disekelilingku tampak bunga-bunga kecil liar yang tumbuh bagai sekumpulan peri kecil yang bersinar, yang ditemani oleh beraneka daun kering yang terbaring dengan lekukan tak beraturan. Aku tak bisa menahan untuk menghirup aroma tajam rerumputan dan tanah.

Lalu mataku menerka lebih jauh, kulihat tempat di ujung sana sangat berbeda, hiruk pikuk kendaraan yang tiada hentinya melaju di jalan. Disana juga  banyak terdapat asap-asap pabrik yang mengepul tinggi seakan ingin menutupi seberkas awan putih di langit. Dan baruku sadari kabut pucat yang kulihat tadi berasal dari asap pabrik dan kendaraan-kendaraan itu. Aku melihat sekeliling, ternyata tempatku berada hanyalah taman kecil diantara gedung-gedung pencakar langit.

Aku ingat ibuku pernah berkata “Mereka telah merampas lingkungan kita yang asri, mengambilnya tanpa harus menggantinya itulah yang mereka pikirkan” Ya mereka memang tidak mengganti dengan hal yang lebih baik tapi mereka menggantinya dengan pagar-pagar beton, tidakkah mereka sadari? Walau diam tapi sebenarnya tumbuh-tumbuhan dan bumi kita sedang menangis, meratapi polusi-polusi yang dating untuk membunuh mereka. Bahkan es di kutub telah habis mencair, tak ada lagi tempat tinggal bagi pinguin dan beruang kutub pada saat ini. Tak mengherankan mereka tinggal kenangan keragaman satwa di ensklopedia.


Berbagai bencana alam yang datang adalah bukti kemurkaan mereka, untuk mengingatkan pada kita tentang anugrahnya, bukankah itu artinya kita berutang budi pada alam?

 Sejenak kita mundur ke beberapa tahun silam, ketika kampanye ketahanan iklim sedang digembar – gemborkan, ketika pemborosan energi telah terjadi, ketika pemborosan tersebut sekaligus memberikan efek rumah kaca pada langit akibat gas pembuangan yang mengapung di atmosfir memberikan efek rumah kaca terhadap daratan sejuta umat manusia di dunia.

Dalam hati aku berjanji “Aku akan berusaha mengembalikan bumi ini menjadi surga kembali, tanpa harus ada yang berubah tapi akan membuatnya terasa berbeda”.

Janganlah menjadi manusia yang egois, alam ini bukan hanya milik generasi kita, masih ada generasi – generasi selanjutnya yang ingin merasakan kesejukan pepohonan, jangan ditebang sembarangan, masih akan ada generasi yang ingin merasakan udara pagi yang sejuk nan teduh, jangan cemari dengan asap kendaraan. Masih ada generasi yang ingin merasakan keramahan hujan disaat musim panas, Masih ada generasi yang ingin menikmati iklim yang stabil, bukan panas yang tinggi yang bergantian dengan badai serta banjir yang melanda, akibat curah hujan yang menggila.